“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok
kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan)
lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula
perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh
jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang
mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan
janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan
barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat:11)
Menurut pengertian umum orang gila
adalah orang yang sakit jiwa atau yang sakit ingatan lantaran ada
gangguan pada urat saraf-nya. Dan biasanya, jika kita bicara tentang orang gila,
maka yang terbayang di pelupuk mata kita adalah keadaan seseorang yang
kusut masai; tidak mandi; berpakaian lusuh; robek atau koyak disana
sini; bahkan ada juga yang
berkeliaran dalam keadaan telanjang bulat. Suka mengoceh atau meracau
sesuka hatinya; bahkan kadang-kadang juga suka marah dan mengamuk tanpa
jelas sebab musababnya; serta berbagai macam keadaan-keadaan yang tidak
normal lainnya menurut definisi sehat yang kita pahami secara umum. Namun
demikian ada juga orang gila yang penampilannya bertolak belakang
dengan keadaan di atas. Atau dengan kata lain; ada orang yang terganggu
jiwanya, tapi tetap tampil dalam keadaan bersih layaknya orang-orang
yang normal.
Banyak
faktor dan kondisi yang dapat membuat seseorang menjadi gila yang
diantaranya; ada orang yang gila lantaran angan-angan atau cita-citanya
tidak kesampaian. Ada pula yang disebabkan oleh kehilangan
sesuatu yang sangat dicintainya semisal kekasih hati; jabatan; harta
benda dan juga oleh sebab-sebab yang lain-lainnya.
Akan tetapi berbeda dengan anggapan kita, maka dalam pandangan
agama sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah SAW, bahwa
orang-orang yang terganggu jiwanya oleh berbagai faktor atau keadaan
sebagaimana yang diterangkan di atas tidaklah disebut sebagai orang
gila. Orang-orang semacam itu hanya disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang sakit atau yang mendapat musibah dari Allah SWT. Dan secara hukum mereka termasuk dalam kelompok yang dibebaskan dari
melaksanakan kewajiban syariat seperti sholat; puasa; zakat; haji dan
lain sebagainya, kecuali pada suatu ketika mereka telah sembuh dari
kondisi sakit tersebut. Atau dengan kata lain; tidak ada dosa atas diri
mereka jika melanggar perintah dan ketentuan Allah SWT, sampai mereka
sembuh dari penyakitnya.
Lalu
kalau sudah begitu keadaannya, siapakah sebenarnya orang gila yang
dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. Atau dengan kata lain; orang gila
menurut pandangan agama ?
Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:
“Pada
suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang
sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah, ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.” MenanggapI hal itu Rasulullah SAW lalu bersabda: “Sesungguhnya orang ini tidaklah gila (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila (al-majnuun haqqul majnuun) “. Para sahabat lalu menjawab: Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.” Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: “Orang
gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang
berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang
memandang orang dengan pandangan yang merendah-kan; lalu berharap Tuhan
akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya.
Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman
dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah
mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut
sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul
majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah sedang mendapat musibah dari Allah.”
Menyimak
apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tersebut, maka dapatlah kita
simpulkan; Bahwa orang gila yang sesungguhnya gila atau (al-majnuun haqqul majnuun) adalah
orang-orang yang sehat jasmani dan ruhani-nya; yang tetap memiliki
tanggung jawab untuk melaksanakan hukum agama yang dibebankan kepadanya.
Akan tetapi di dalam masyarakatnya, yang memiliki beberapa penyakit
yang antara lain dijelaskan oleh Rasulullah SAW; Orang yang sombong;
yang apabila berjalan ia melangkahkan kakinya dengan pongah; dan selalu ingin dihormati; serta selalu memandang rendah kepada orang lain. Dan di
balik kesombongannya itu, selalu berharap agar Allah memberinya pahala
atas perbuatannya, dan apabila sudah mati ingin pula masuk ke dalam
surganya Allah SWT.
Tidak
hanya sombong, tapi juga banyak melakukan perbuatan maksiat dan
kejahatan; baik nyata maupun tersembunyi, yang oleh sebab ini pula maka
banyak orang-orang yang ada di sekitarnya, yang tidak pernah berharap
akan kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga pada akhirnya orang tidak
lagi peduli dengan kebajikan maupun kejahatan yang mereka lakukan.
Kalaupun
orang-orang di sekitar mereka menaruh rasa hormat dan simpati, hal itu
mungkin disebabkan oleh berbagai macam pertimbangan, agar tidak tumbuh
masalah lain, yang berdampak buruk pada tata pergaulan hidup yang ada.
Mengapa
Rasulullah SAW menyatakan, bahwa orang yang sombong dan yang memiliki
sifat buruk lainnya, sebagaimana yang disebutkan di atas adalah orang
gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnun haqqul majnun).
Perkara
ini tentu saja tidak lepas dari pernyataan-pernyataan Allah SWT di
dalam Kitab-Nya; Al-Qur’anul Karim, yang beberapa di antaranya:
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mem-persekutukan-Nya dengan sesuatupun; dan
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh,
dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisaa’: 36)
Sedangkan dalam surah Al-Israa’ ayat 37 ditegaskan oleh Allah SWT: “Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena
sesungguh-nya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali
kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S.Al-Israa’: 37)
Allah SWT juga berfirman: “Dan
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesung-guhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Luqman: 18)
Selanjutnya dengan menyimak beberapa keterangan di atas, maka boleh jadi pepatah atau kalimat men sana in corpore sano atau dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat; tidak
sepenuhnya dapat kita terima. Sebab dalam kenyataannya; di sekitar kita
cukup banyak orang-orang yang sehat badannya, akan tetapi ia memiliki
berbagai ragam penyakit jiwa sebagaimana yang tersirat dalam firman
Allah SWT atau hadis Rasulullah SAW yang telah disampaikan di atas.
Dan
oleh sebab itu pulalah, ada baiknya saat ini kita mengoreksi dan
menginstropeksi diri masing-masing; Apakah kita benar-benar sehat, atau
apakah termasuk dalam kelompok orang gila yang dimaksudkan oleh
Rasulullah SAW. Atau paling
tidak, mungkin ada sedikit virus atau bibit penyakit gila yang dikatakan
oleh Rasulullah SAW tersebut di dalam diri kita. Sehingga dengan
demikian perlu kita jaga dan kita obati secepat mungkin, agar pada
akhirnya kita tidak benar-benar menjadi gila lantaran situasi dan
kondisi hidup yang terus menerus berubah. Terutama tumbuh dan
berkembangnya sifat sombong di dalam diri, yang pada akhirnya sia-sia
pulalah amal ibadah yang telah kita lakukan, sebagaimana yang tersirat
dan tersurat dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud r.a, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Siapa
saja yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya sebesar
dzarrah
(sebesar biji atom), maka ia tidak akan masuk surga.”
Mudah-mudahan dengan hidayah dan inayah Allah SWT, apa yang disampaikan melalui catatan ini dapat dipahami dengan sebaik-baiknya; dan semoga kiranya kita
semua dimasukkan Allah SWT ke dalam kelompok orang-orang yang sehat
secara jasmaniah dan ruhaniyah; yang dari waktu ke waktu senantiasa
mendapat hidyah dan inayah Allah untuk mem-perkokoh iman dan meningkatkan nilai-nilai ketakwaan kepada-Nya. Amiin ya robbal ’alamiin. Wallahua’lam![]() |
| Photo Klik Untuk Facebook Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia |
Facebook kami Ikm Stikes Qamarul Huda
facobook admin Lalu Edi Julianto




Tidak ada komentar:
Posting Komentar